v Sejarah Filsafat Yunani (Filsafat
Alam)
1.
Filsafat Yunani pada masa Pra-Socrates.
Filsafat Pra Socrates Bangsa Yunani merupakan bangsa yang pertama kali
berusaha menggunakan akal untuk berpikir. Kegemaran bangsa Yunani merantau
secara tidak langsung menjadi sebab meluasnya tradisi berpikir bebas yang
dimiliki bangsa Yunani.
Menurut Barthelemy, kebebasan berpikir bangsa Yunani disebabkan karna di Yunani sebelumnya tidak pernah ada agama yang didasarkan pada kitab suci. Keadaan tersebut jelas berbeda dengan Mesir, Persia, dan India. Sedangkan Livingstone berpendapat bahwa adanya kebebasan berpikir bangsa Yunani dikarenakan kebebasan mereka dari agama dan politik secara bersamaan[1]. Lahirnya filsafat pra socrates juga disebabkan karena kemenangan akal atas dongeng atau mitos yang diterima dari agama yang memberitahukan tentang asal muasal segala sesuatu. Para pemikir atau ahli filsafat ini mencoba untuk mencari-cari jawaban tentang akibat terjadinya alam semesta beserta isinya.
Menurut Barthelemy, kebebasan berpikir bangsa Yunani disebabkan karna di Yunani sebelumnya tidak pernah ada agama yang didasarkan pada kitab suci. Keadaan tersebut jelas berbeda dengan Mesir, Persia, dan India. Sedangkan Livingstone berpendapat bahwa adanya kebebasan berpikir bangsa Yunani dikarenakan kebebasan mereka dari agama dan politik secara bersamaan[1]. Lahirnya filsafat pra socrates juga disebabkan karena kemenangan akal atas dongeng atau mitos yang diterima dari agama yang memberitahukan tentang asal muasal segala sesuatu. Para pemikir atau ahli filsafat ini mencoba untuk mencari-cari jawaban tentang akibat terjadinya alam semesta beserta isinya.
Filsafat Pra Socrates juga
dapat dikatakan sebagai filsafat alam, karena para ahli filsafat dimasa
tersebut menjadikan alam semesta sebagai objek pemikirannya. Tujuan filosofi
mereka dalam memikirkan soal alam semesta yaitu untuk mengetahui darimana
terjadinya alam atau darimana alam ini berasal, hal inilah yang menjadi sentral
persoalan bagi mereka. Pemikiran yang demikian itu merupakan pemikiran yang
sangat maju, rasional dan radikal. Sebab pada waktu itu kebanyakan orang
menerima begitu saja keadaan alam seperti apa yang dapat ditangkap dengan
indranya, tanpa mempersoalkannya lebih jauh. Sedang di lain pihak orang cukup puas menerima
keterangan tentang kejadian alam dari cerita nenek moyang.
Filosuf yang hidup pada
masa pra Socrates disebut para filosuf alam karena objek yang mereka jadikan
pokok persoalan adalah alam. Yang dimaksud dengan alam (fusis) adalah kenyataan
hidup dan kenyataan badaniah. Jadi, perhatian mereka mengarah kepada apa yang
dapat diamati[2].
Ada beberapa filosof pada masa pra socrates, yaitu :
1. Thales
Thales memberikan
jawaban bahwa segala sesuatu berasal dari air, ia juga menyatakan bahwa bumi
ini berasal dari air. Air adalah pusat dan sumber segala yang ada atau pokok
dari segala sesuatu. Segala sesuatu berasal dari air dan kembali ke air. Dari
air itu terjadilah tumbuh-tumbuhan dan binatang, bahkan tanah pun mengandung
air. Argumen Thales merupakan argument yang bukan hanya rasional, tetapi juga
observatif.
2. Anaximandros
Anaximandros adalah
salah satu murid Thales. Anaximandros adalah seorang ahli astronomi dan ilmu
bumi. Meskipun dia murid Thales namun ia mempunyai prinsip dasar alam satu akan
tetapi bukanlah dari jenis benda alam seperti air sebagai mana yang dikatakan
oleh gurunya.
Prinsip dasar alam
haruslah dari jenis yang tak terhitung dan tak terbatas yang oleh dia disebut
Apeiron yaitu zat yang tak terhingga dan tak terbatas serta tidak dapat
dirupakan dan tidak ada persamaannnya dengan apapun. Meskipun tentang teori asal kejadian alam tidak
begitu jelas namun dia adalah seorang yang cakap dan cerdas. Pendapatnya yang
lain yaitu, bumi seperti silinder, lebarnya tiga kali lebih besar dari tingginya.
Sedangkan bumi tidak terletak atau bersandar pada sesuatu pun[3].
3. Anaximenes
Anaximenes berpendapat bahwa udara merupakan
asal usul segala sesuatu. Udara melahirkan semua benda dalam alam semesta ini
karena suatu proses pemadatan dan pengeceran, kalau udara semakin bertambah
maka muncullah berturut-turut angin, air, tanah dan akhirnya batu. Sebaliknya
kalau udara itu menjadi encer yang timbul adalah api.
Pandangan Anaximenes tentang susunan jagat raya bertolak belakang dengan Anaximandros. Menurut Anaximenes bumi ini seperti meja bundar dan melayang di atas udara. Demikian pula matahari, bulan dan bintang. Benda-benda yang ada dijagad raya itu tidak terbenam di bawah bumi
sebagaimana yang dipikirkan Anaximandros tetapi mengelilingi bumi yang datar
itu, matahari lenyap pada waktu malam tertutup di belakang bagian-bagian tinggi[4].
4. Pythagoras
Pythagoras lahir
dipulau Samos yang termasuk daerah Ionia. Dalam kota ini Pythagoras mendirikan
suatu tarekat beragama yang bersifat religious, mereka menghomati dewa Apollo.
Menurut kepercayaan Pythagoras, jiwa manusia asalnya dari Tuhan, jiwa itu
adalah penjelmaan dari tuhan yang jatuh kedunia karena berdosa dan dia akan
kembali kelangit kedalam lingkungan tuhan semula apabila dosanya itu sudah
habis dicuci, hidup didunia ini adalah persediaan buat akhirat. Sebab itu dari
sekarang dikerjakan hidup untuk hari kemudian.
Pythagoras tersebut juga sebagai ahli pikir. Terutama dalam ilmu matematik
dan ilmu berhitung. Falsafah pemikirannya banyak diilhami oleh rahasia
angka-angka. Dunia angka adalah dunia kepastian dan dunia ini erat hubungannya
dengan dunia bentuk. Dari sini dapat dilihat kecakapannya dia dalam matematik
mempengaruhi terhadap pemikiran filsafatnya sehingga pada segala keadaan ia
melihat dari angka-angka dan merupakan paduan dari unsur angka.
5. Heraclitos
Ia lahir dikota Ephesos
diasi minor, ia mempunyai pendangan yang berbeda dengan filosof-filosof
sebelumnya. Ia menyatakan bahwa asal segala suatu hanyalah satu yakni api. Ia memandang
bahwa api sebagai unsur yang asal pandangannya semata-mata tidak terikat pada
alam luaran, alam besar, seperti pandangan filosof-filosof Miletos.
Segala kejadian didunia ini serupa dengan api yang tidak putusnya dengan
berganti-ganti memakan dan menghidupi dirinya sendiri segala permulaan adalah
mula dari akhirnya. Segala hidup mula dari pada matinya. Didunia ini tidak ada
yang tetap semuanya mengalir. Tidak sulit untuk mengerti apa sebab Heraklitos
memilih api. Nyala api senantiasa memakan bahan bakar yang baru dan bahan bakar
itu dan berubah menjadi abu dan asap. Oleh karena itu api cocok sekali untuk
melambangkan suatu kesatuan dalam perubahan. Api mempunyai sifat memusnahkan segala yang ada,
dan mengubah segala sesuatu itu menjadi abu dan asap. Walaupun sesuatu itu apabila dibakar
menjadi abu dan asap, toh adanya api tetap ada. Segala sesuatunya berasal dari
api, dan akan kembali menjadi api[5]. Pernyataan itu mengandung pengertian bahwa kebenaran selalu berubah,
tidak tetap. Pengertian adil pada hari ini belum tentu masih benar besok. Hari
ini 2 x 2 = 4 besok dapat saja bukan empat. Pandangan ini merupakan warna dasar
filsafat sofisme[6].
Tidak ada komentar:
Posting Komentar